Psikologi Sebagai Pendekatan Kajian Keislaman

A. Pengertian Psikologi dan Perkembangannya

Perumusan pengertian psikologi dapat disederhanakan dalam tiga pengertian. Pertama, Psikologi adalah studi tentang jiwa. Kedua, Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan mental, Ketiga Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku organisme (Bruno, 1989). Berdasarkan perkembangan psikologi, baik secara positif maupun negatif, dapat dibedakan empat periode perkembangan yaitu

1) Periode pertama

Pada abad ke 19 sejarah Psikologi baru diakui menjadi ilmu independen setelah didirikan laboratorium psikologi oleh Wilhem Wundt pada tahun 1897, Para   sarjana psikologi mulai menyelidiki gejala - gejala kejiwaan secara lebih sistematis dan objektif. Metode- metode baru diketemukan untuk menagadakan pembuktian-pembuktian nyata dalam psikologi sehingga lambat laun dapat disusun teori-teori psikologi yang terlepas dari ilmu induknya. 

2) Periode kedua

Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Ciri utama periode ini adalah adanya usaha usaha dari para psikologi untuk mengkaji dan menafsirkan perilaku beragama berdasarkan konsep dan teori psikologi. Pada periode kedua ini ada tiga tokoh utama yang dipandang sebagai orang yang berjasa besar dalam melahirkan psikologi agama. Ketiga tokoh itu masing-masing adalah Edwin Diller Starbuck, James H. Leuba, dan William James (1258-1328H/ 1824-1920 M). (Baharuddin, 2005)

3) Periode ketiga

Berlangsung sejak tahun tahun 1930 sampai dengan sekitar tahun 1950-an. Periode ini adalah periode kemorosatan hubungan agama dengan psikologi. Ada dua faktor utama yang menyebabkan hal itu. Pertama, pada rentangan tahun-yahun tersebut psikologi cenderung semakin positivistik dan behavioristik (Crapps, 1986). Kedua, para ahli agama memanfaatkan situasi itu untuk membentengi iman umatnya dengan cara menjauhkan diri dan menolak temuan-temuan sains. (Crapps, 1986).

4) Periode keempat

Dimulai sekitar tahun 1960-an M dan masih berlangsung sampai dengan sekarang (2001 M). Periode ini perkembangan psikologi mengarahkan pada usaha-usaha untuk menjadikan nilai, budaya, dan agama sebagai objek kajian psikologi dan juga sekaligus sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan teori-teori psikologi. 


B. Psikologi dalam Islam

Psikologi Islam secara etimologi, psikologi memiliki arti ilmu tentang jiwa. Sedangkan dalan Islam, jiwa memiliki padana kata nafs meskipun ada juga yang menggunakan kata ruh. Psikologi Islam sendiri adalah suatu corak psikologi yang berlandaskan pada citra manusia menurut ajaran Islam yang berbicara tentang manusia terutama kepribadian manusia dan mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia yang bersifat filsafat, teori, metodologi dan pendekatan problem dengan didasarkan sumber formal Islam (al-Quran dan Hadits), akal, indra, dan intuisi dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagaman. (Fuad Nashori, 2002). Dalam psikologi Islam terdapat beberapa istilah yang cukup terkenal seperti aql, jiwa atau nafs, dan ruh. (Taufiq, 2006)

Secara umum berkembangnya wacana Psikologi Islam sebagai salah satu buah Islamisasi sains atau kebangkitan Islam, tidak hanya tuntutan dari ilmuwan muslim tetapi juga merupakan hasil kajian beberapa ilmuwan non-muslim. 


C. Teori Psikologi Islam dan Barat

Psikologi Barat dapat dijadikan sebagai alat bantu dalam melihat elemen- elemen pokok yang terkait dengan kepribadian dan melalui elemen-elemen itu pula maka Psikologi Islam dapat dibangun. Persoalan esensinya justru terletak pada substansi teorinya. Berikut ini adalah teori psikologi Barat :

  1. Teori Psikologi Barat dibangun berdasarkan penelitian dan ekperimentasi pada perilaku individu yang sarat akan budaya Barat, padahal budaya itu sifatnya temporal yang senantiasa berubah dan berbeda menurut tempat, zaman dan keadaan. Sementara umat Islam yang umumnya berada di wilayah Timur memiliki budaya yang khas, yaitu budaya yang diturunkan dari ajaran Islam. 
  2. Teori Psikologi Barat dibangun berdasarkan paradigma empiris, rasionalistik, induktif, obektif, relatif, repetitif, fakta sensorik bersumber pada filsafat positivistik dan bermuara pada pandangan antroposentris dan netral etik, semenata kepribadian Islam menggunakan kepribadian empiris-metaempiris, rasional intuitif, denderung deduktif, mengakui pengalaman subjektif, didasarkan pada pedoman mutlak yang datangya dari Tuhan dan rasul-Nya dan bermuara pada pandangan teosentris yang sarat etik. Selain itu,penerimaan teori-teori Psikologi Barat ketika dapat memperjelas ayat-ayat qawliyah atau sebagai hasil dari interpretasi terhadap ayat-ayat kawniyah. Umat Islam memiliki kekuatan dalam memahami ayat-ayat qawliyah, meskipun lemah di dalam mengkaji ayat-ayat kawniyah. Sementara para Psikolog Barat telah banyak mengungkap fenomena kawniyah meskipun upayanya tidak dikaitkan dengan fenomena qawliyah. Masing-masing kekuatan itu disinergikan untuk memperoleh rumusan psikologi Islam yang lebih komprehensif. Demikian pula, karena sifatnya yang metaempirik dan spekulatif maka konsep-konsep dan teoriteori psikologi sulit diterapkan secara praktis, padahal kebutuhan terhadap psikologi ini semakin mendesak.

Dalam dialektika inilah, sebagian cendekiawan muslim terdorong menghadirkan paradigma Psikologi Islami. Psikologi Islami adalah corak psikologi berlandaskan citra manusia menurut ajaran Islam yang mempelajari keunikan dan pola perilaku manusia sebagai ungkapan pengalaman interaksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar dan dalam keruhanian dengan tujuan meningkatkan kesehatan mental dan kualitas keberagamaan. Meminjam cara pandang Achmad Mubarok, perbedaan antara dua kutub psikologi ini terletak pada dua hal.4 Pertama adalah pada sumbernya. Sebagaimana diketahui bahwa Psikologi konvensional bersumber dari perenungan intelektual dan penelitian empirik hingga laboratorium psikologi.

Sedangkan Psikologi Islam sumbernya adalah apa kata Tuhan Sang Pencipta tentang manusia dan jiwanya seperti yang tercantum dalam kitab Suci Al Qur`an. Sudah barang tentu hadist Nabi juga menjadi sumber. Selanjutnya teori-teori Psikologi konvensional dapat dipakai sebagai alat bantu dalam memahami teks kitab Suci.

Kedua adalah pada tugasnya. Wilayah kerja Psikologi Barat/konvensional (1) menerangkan makna tingkah laku, (2) memprediksi tingkah laku dan (3) mengendalikan tingkah laku. Psikologi konvensional tidak mengenal baik buruk, tidak mengenal Tuhan, dosa dan akhirat. Yang dikenal oleh Psikologi konvensional hanyalah sehat dan tidak sehat. Nah Psikologi Islam menambah dua tugas, yaitu ((4) membentuk perilaku yang baik (akhlak al-karimah) dan (5) mendorong manusia merasa dekat dengan Tuhan.

Salah satu alasan yang dapat digunakan adalah bahwa psikologi Islam menempatkan kembali kedudukan agama dalam kehidupan manusia yang dalam sejarah perkembangan ilmu saling tarik ulur, menjadi penyempurna konsep perilaku manusia dan menghadirkan kembali faktor Tuhan (spiritual) dalam kehidupan manusia serta diyakini mampu menjadi elemen moral dalam aplikasi ilmu pengetahuan modern sehingga dapat membangun kembali peradaban manusia. Oleh karena ini penulis akan mengkerucut salah satu membahas eksistensi perkembangan mazhab psikologi Islam sebagai aliran baru dalam psikologi.

D. Pendekatan Psikologi dalam Studi Islam

Untuk diakui sebagai disiplin ilmu, membangun Psikologi Islam akan menghadapi problem metodologis yang rumit. Hal itu terjadi sebab Psikologi Islam berada di dua persimpangan jalan yang harus dilalui. Persimpangan pertama harus melalui prinsip-prinsip ilmiah psikologi modern, sementara persimpangan kedua harus melalui nilai-nilai fundamental dalam Islam. Pada aspek tertentu kedua persimpangan itu mudah dilalui secara simultan, namun pada aspek yang lain justru bertabrakan yang salah satunya tidak mau dikalahkan. Pendekatan yang ditempuh dapat memilih di antara tiga pendekatan sebagai berikut, yaitu:

1. Pendekatan skripturalis

Pendekatan ini, mengkaji teks-teks al-Quran ataupun hadits secara literal. Lafal-lafal yang terkandung di dalam al-Quran maupun hadits petunjuknya (dilalah) sudah dianggap jelas (sharih) dan tidak diperlukan lagi penjelasan di luar ayat atau hadits tersebut.

2. Pendekatan falsafi,

Pendekatan ini, mengkaji teks-teks al-Quran ataupun hadits yang didasarkan atas prosedur berfikir spekulatif. Prosedur yang dimaksud mencakup berpikir sistemik, radikal, dan universal yang ditopang oleh kekuatan akal sehat. Pendekatan falsafi ini tidak berarti meninggalkan nash, melainkan tetap berpegang teguh kepada nash, hanya saja cara memahaminya dengan mengambil makna esensial yang terkandung di dalamnya. Akal yang sehat sesungguhnya berasal dari Allah SWT, demikian juga nash berasal dari-Nya. Karena itu, tidak akan bertentangan antara nash dengan akal sehat. Jika terjadi perbedaan antara nash dengan akal sehat, boleh jadi disebabkan oleh akal belum mampu menangkap pesan esensial nash, atau diperlukan interpretasi filosofis (tawil) terhadap lafal dalam nash. Pendekatan ini melahirkan psikolog falsafi.

3. Pendekatan tasawwufi,

Pendekatan ini, mengkaji teks-teks al-Quran atau pun hadits yang didasarkan pada prosedur berfikir intuitif (al-hadsiyyah), ilham dan cita rasa (al-dzawqiyah). Prosedur yang dimaksud dilakukan dengan cara menajamkan struktur kalbu melalui proses penyucian diri (tazkiyah al-nafs). Cara itu dapat membuka tabir (hijab) yang menjadi penghalang antara ilmu-ilmu Allah dengan jiwa manusia, sehingga mereka memperoleh ketersingkapan (al-kasyf) dan mampu mengungkap hakekat jiwa yang sesungguhnya. Pendekatan ini melahirkan psikolog-tasawwuf


Komentar