Sosiologi Sebagai Pendekatan Kajian Keislaman

A. Pengertian Sosiologi

Secara etimologi, kata sosiologi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata socius yang berarti teman, dan logos yang berarti berkata atau berbicara tentang manusia yang berteman atau bermasyarakat. Secara terminologi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial. Adapun objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antara manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Sedangkan tujuannya adalah meningkatkan daya kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya.

Jadi dalam seorang sosiolog agama bertugas meneliti tentang bagaimana tata cara masyarakat, kebudayaan dan pribadi-pribadi mempengaruhi mereka. Kelompok-kelompok mempengaruhi terhadap agama, fungsi-fungsi ibadat untuk masyarakat, tipologi dari lembaga-lembaga keagamaan dan tanggapan-tanggapan agama terhadap tata dunia, serta langsung maupun tidak langsung antara sistem-sistem religius dan masyarakat.


B. Metode Sosiologi Agama

Dalam mengkaji metode ilmiah tidak hanya satu pemikiran saja yang dipakai akan tetapai sangatlah luas untuk menjadikan sebuah pengertian ini menjadi lenbih menyeluruh dan lebih terdefinisikan sehingga menjadi rinci. Dalam penelitian sosiologi menurut Kahmad, umumnya digunakan tiga bentuk penelitian yakni, deskriptif, komparatif, dan eksperimental. Sedangkan menurut supardan, selain metode itu ada metode lain yaitu Eksplanatori, Fungsionalisme, Studi Kasus, Survei dan Historis Komparatif.

1. Metode deskriptif

Metode deskriptif yakni suatu metode penelitian tentang dunia empiris yang terjadi pada masa sekarang. Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan, secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan antar fenomena yang diselidiki.

2. Metode komparatif

Metode komparatif adalah sejenis metode deskriptif yang ingin mencapai jawaban mendasar tentang sebab akibat, analisis factor-faktor atau penyebab terjadinya atau munculnya suatu fenomena. Jangkauan waktunya adalah masa sekarang. Jika jangkauan waktu terjadi pada masa lampau, maka penelitian tersebut termasuk dalam metode sejarah.

3. Metode eksperimental

Metode eksperimental adalah suatu metode pengujian terhadap suatu teori yang telah mapan dengan suatu perlakuan baru. 

4. Metode eksplanatori

Metode eksplanatori adalah metode yang bersifat menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan mengapa dan bagaimana sehingga lebih mendalam daripada metode deskriptif yang hanya bertanya tentang apa, siapa, kapan, dan dimana. Metode ini termasuk bagian dari emtode empiris.

5. Metode historis komparatif

Metode historis komparatif adalah metode yang menekankan pada analisis atas peristiwa-peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip namun, yang kemudian digambungkan dengan metode komparatif, dengan menitikberatkan pada perbandingan natara beberapa masyarakat beserta bidangnya agar memperoleh pola persamaan beserta sebab-sebabnya.


6. Metode fungsionalisme

Metode fungsionalisme adalah metode yang bertujuan untuk meneliti fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalm masyarakat. 

7. Metode studi kasus

Metode studi kasus merupakan suatu penyelidikan mendalam dari individu, kelompok, atau institusi untuk menentukan variable dan hubungannya diantaranya variabel yang mempengaruhi status atau perilaku yang saat itu menjadi pokok kajian.

8. Metode survey

Metode survei adalah metode yang berusaha untuk memperoleh data dari anggota populasi yang relatif besar untuk mementukan keadaan, karakteristik, pendapatdan populasi sekarang yang berkenaan dengan satu variable atau lebih.

Metode dalam sosiologi agama pada umumnya bahwa terdapat dua jenis cara kerja (methode). Pertama, metode empiris yaitu menyandarkan diri pada keadaan yang nyata (empirik) didapat didalam masyarakat. Hal ini dapat diaplikasikan dalam penelitian. Kedua, Metode rasionalisme yaitu mengutamakan pemikiran dengan logika dan pemikiran sehat untuk mencapai pertain tentang masalah-maslah kemasyarakatan.


C. Pendekatan Sosiologi Agama

Dalam pendekatan sosiologi, minimal ada tiga teori yang digunakan yakni:

1. Teori fungsional yakni teori yang mengasumsikan masyarakat sebagai organisme ekologi mengalami pertumbuhan. Semakin besar pertumbuhan terjadi semakin kompleks pula masalah-masalah yang akan dihadapi.

2. Teori Interaksionisme yang mengasumsikan dalam masyarakat pasti ada hubungan antara masyarakat dengan individu, antara individu dengan individu lain. Teori Interaksionis sering diidentifikasi sebagai deskripsi yang interpretatif yaitu suatu pendekatan yang menawarkan analisis yang menarik perhatian besar pada pembekuanse enyatanya ada. 

3. Teori konflik; yakni teori yang kepercayaan bahwa setiap masyarakat mempunyai kepentingan (interst) dan kekuasaan (power) yang merupakan pusat dari segala hubungan sosial.


D. Konsep Masyarakat Madani Indonesia

1. Telaah Historis Masyarakat Madani

Dalam perspektif Islam, masyarakat madani lebih mengacu kepada penciptaan peradaban. Dimana kata al-Din yang pada umumnya bermakna agama, bisa ditarik pada makna tamaddun, atau peradaban. Keduanya menyatu dalam makna kata al-Madinah yang berarti kota. Berbeda dengan kata al-Qoryah atau al-Balad, yang juga berarti kota yang sering juga sebagai makna sebuah negeri. Bedanya al-Madinah mempunyai muatan peradaban dan kebudayaan. 

Konsep masyarakat madani menurut Islam adalah bangunan politik yang demokratis, pertisipatoris, menghormati dan menghargai publik seperti kebebasan hak asasi, partisipasi, keadilan sosial, menjunjung tinggi etika dan moralitas, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui makna madani, maka istilah masyarakat madani secara mudah dapat difahami sebagai masyarakat yang beradab, masyarakat sipil, dan masyarakat yang tinggal di suatu kota atau berfaham masyarakat kota yang pluralistik.


2. Karakteristik Masyarakat Madani

Penyebutan karakteristik masyarakat madani disini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa dalam merealisasikan wacana masyarakat madani diperlukan prasyarat-prasyarat yang menjadi nilai-nilai universal dalam penegakan masyarakat madani, prasyarat ini tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya atau hanya mengambil salah satunya saja. Melainkan merupakan satu kesatuan yang integral yang menjadi dasar bagi eksistensi masyarakat madani. Karakteristik tersebut diantaranya adalah adanya free public sphere, demokratis, toleransi, pluralisme,keadilan sosial, dan berkeadaban.

Masyarakat madani merupakan bentuk sinergitas dari pengakuan hak-hak untuk mengembangkan demokrasi yang didasari oleh kesiapan dan pengakuan pada partisiasi rakyat, dimana dalam implementasi kehidupan peran hukum strategis sebagai alat pengendalian dan pengawasan dalam masyarakat.

Komentar