PENGARUH MISTIS DAN SUFISTIK DALAM DUNIA MODERN

A. Pengertian Mistis

Menurut Jumantoro, 2005, secara harfiah, mistis atau mystes berarti sesuatu yang misterius, sehingga mistisisme atau mysticism bermakna ajaran yang bersifat rahasia. Disebut mistisisme karena pengalaman rohani atau pengalaman mistis merupakan pengalaman yang misterius yang sulit dipahami oleh orang yang tidak pernah mengalaminya. Ia merupakan sebuah pengetahuan yang tidak masuk di akal meskipun pada kenyataannya dapat menimbulkan kejadian yang nyata. Di kalangan masyarakat, mistisisme diyakini memiliki unsur atau muatan kekuatan magis yang ampuh untuk dijadikan jalan keluar ketika sedang menghadapi permasalahan.

Pada awalnya, istilah mistis digunakan di dunia Barat oleh seorang teolog yang bernama Dionysius. Menurutnya, mistis cenderung bersifat pernyataan teologis daripada suatu pengalaman kesadaran terdalam. Dalam pemikiran Neo-Platonis, ia digambarkan sebagai sebuah kepercayaan bagi kemungkinan penyatuan dengan Tuhan. Sedangkan, pengetahuan ini dianggap lancung atau semacam gejala abnormal dalam perspektif ilmiah karena tidak bisa diterima secara rasional atau logis


B. Epistemologi Mistis

Mistis atau mistisisme adalah suatu pengetahuan yang memberikan ajaran yang serba mistis, misal ajarannya bersifat rahasia serta pengejawantahannya serba rahasia, tersembunyi, gelap, atau terselubung dalam kekelaman sehingga hanya mampu dipahami oleh orang-orang tertentu saja. Pengetahuan tersebut diperoleh tidak melalui indra dan juga rasio, sehingga untuk mendapatkannya harus melalui rasa atau melalui hati yang mana sebagai tempat merasa, sehingga hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh indra dapat diterima oleh hati dan rasa.

Sedangkan untuk memperoleh pengetahuan mistik tersebut tidaklah mudah. Ada tahap-tahap yang harus dilalui untuk mencapainya. Al-Ghazali meneguhkan bahwa pengetahuan tersebut bisa diperoleh melalui dhamir atau qolbu. Dalam agama samawi, salah satunya agama Islam, cara untuk mendapatkannya itu harus dengan cara membersihkan jasmani dan rohani terlebih dahulu. Agar unsur rohani bersih maka harus menghilangkan nafsu jasmani, di antara nafsu jasmani yang paling dominan adalah nafsu kelamin dan nafsu perut. Karena keduanya inilah yang akan menyebabkan banyak orang mendapatkan siksaan dari Tuhan di akhirat. 

Sedangkan, dalam pandangan para sufi atau sufisme, cara memperoleh pengetahuan mistisisme disebut juga dengan thariqat yang terdiri dari maqam-maqam untuk menggapai Tuhan. Pada umumnya, cara untuk memperolehnya ialah dengan latihan yang disebut juga dengan riyadhah. Dari sinilah manusia mampu memperoleh pencerahan yang dalam tradisi tasawuf dikenal sebagai marifah. Pada hakikatnya, inti dari pengetahuan ini ialah sebuah ajaran yang memiliki konsep bahwa Tuhan bisa didapatkan melalui meditasi atau kesadaran spiritual yang bebas dari campur tangan akal dan panca indra.


C. Pengertian Sufistik

Sufisme atau sufistik memiliki istilah yang dapat ditelusuri bahwa ia berangkat dari kata tasawuf. Namun, terdapat kesulitan dalam mendefinisikan dan batasan tegas berkaitan dengan tasawuf. Hal ini disebabkan karena istilah itu sendiri tidak pernah dipakat di dalam Al- Quran ataupun Hadis Nabi.6 Ia dipakai oleh orientalis Barat untuk menyebut mistisisme atau mistik dalam Islam. Menurut Schimmel, tasawuf atau sufisme merupakan nama yang biasanya digunakan untuk menyebut dimensi mistik dalam Islam. 

Di dalam Islam, Istilah tersebut juga merupakan bahasa yang utama, yakni berkaitan dengan istilah sufi. Istilah sufistik atau sufisme memiliki konotasi yang lebih khas dan religius. Oleh sebab itu, sebutan tasawuf atau sufisme merupakan sebutan khas dan hanya dikhususkan untuk menyebut aspek mistik (mistisisme) dalam Islam dan tidak untuk agama lain. 

Pada awalnya, pengertian sufistik atau tasawuf merupakan bentuk pemaknaan dari dua apsek utama yang terdapat di dalamnya, yakni safa dan mushahadah. Safa dalam tasawuf diposisikan sebagai wasilah, yakni sarana, teknik, cara, atau upaya penyucian jiwa. Bentuk-bentuk wasilah ini menurut Imam al-Ghazali beragam, seperti puasa, zikir, riyadah, dan amalan ibadah lainnya. Selanjutnya mushahadah, yang merupakan ghayah atau tujuan tasawuf, berarti menyaksikan Tuhan atau selalu merasa disaksikan Tuhan.

Itulah makna lain dari Hadis Rasullulah tentang al-ihsan. Dua aspek tersebut yang dapat digunakan untuk memahami dan memaknai berbagai fenomena ritual yang banyak dihubungkan dengan dunia sufistik atau tasawuf.


D. Epistemologis Sufistik

Dalam pengertiannya, sufistik atau tasawuf mengacu pada pencarian jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Ia merupakan gejala yang tidak mudah untuk diidentifikasi, terlebih lagi jika memasuki wilayah yang disebut mystical experience. Bagi mereka yang berpandangan positivisme, model pengetahuan khas kaum sufi dianggap tidak nyata, dan karenanya tidak mungkin bisa diterima oleh rasional, logika, ataupun akal, apalagi diakui kebenarannya secara objektif.


Pada dasarnya, sufisme atau tasawuf merupakan suatu konsep, ajaran, atau doktrin tentang penyucian jiwa menuju Tuhan. Konsep itulah yang kemudian bergerak ke arah sufisme sebagai aktualisasi praksis tasawuf. Para pelaku praktik ini memiliki tiga bentuk aktivitas: 1) penyucian jiwa; 2) berperilaku sufi; dan 3) gerakan sufi. Di antara kegiatan-kegiatan tersebut, terdapat kecenderungan penggunaan istilah-istilah tasawuf dan sufisme secara bergantian dan linier. Dan supaya lebih dimengerti, penulis selanjutnya akan menggunakan istilah tasawuf untuk penyebutannya.

perasaan sehingga tampak baginya suatu kekuatan gaib menguasai diri dan menjalar di segenap raga jiwanya. Oleh karena itu, dia menyebut cahaya itu sebagai tiupan-tiupan transendental yang menyegarkan jiwa. Pengalaman ini sering diiringi gejala-gejala psikologis seperti merasa adanya peristiwa atau suara-suara terdengar atau seakan terlihat olehnya sesuatu yang bersifat paranormal.

Kedua, bahwa dalam tasawuf, kesatuan Tuhan dengan hamba-Nya merupakan sesuatu yang memungkinkan, sebab jika tidak, tasawuf akan berwujud sekadar moralitas keagamaan. Pandangan ini didasarkan pada keyakinan terhadap wujud mutlak yang merupakan satu-satunya wujud yang riil. Komunikasi dan hubungan langsung dengan Tuhan berlaku taraf-taraf yang berbeda hingga mencapai kesatuan paripurna, yaitu tidak ada yang terasa kecuali Yang Mahaesa. Dari sini, tasawuf dikatakan sebagai tangga transendental yang tingkatan-tingkatannya berakhir pada dzat yang transenden. Ia merupakan perjalanan pendakian (miraj) hingga mencapai puncak kesatuan paripurna. Maksud yang terdalam dari tasawuf adalah tashfiyatul qulub atau membersihkan hati, maka dari itu, bisa berganti dari pakaian yang penuh dengan kemewahan menjadi pakaian yang sederhana, tawadhu, dan penuh dengan rasa keilahian.

Pada akhirnya, tasawuf, sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairi dan dikutip oleh Muhammad Sholikhin, yang mengartikan tasawuf sebagai kemurnian, yakni orientasi hanya kepada Tuhan dan tidak merosot kepada derajat umat manusia pada umumnya, hingga kejadian-kejadian dunia tidaklah memengaruhinya. Pada saat ini, pandangan umat manusia tentang nilai-nilai kemanusiaan telah bergeser menuju suatu yang bersifat materialistis.


E. Pengaruh Mistis dan Sufistik dalam Dunia Modern

Di dalam Islam, tasawuf dimanfaatkan sebagai media untuk menyelesaikan masalah karena di dalam pengetahuan mistis itu sendiri ada muatan-muatan kekuatan magis yang ampuh untuk dijadikan jalan keluar. Kadang, ketentraman jiwa tidak bisa hanya dicapai dengan materi saja, karena banyaknya problem yang dihadapi manusia, sehingga menyebabkan manusia mempunyai qolbu yang tidak sehat, dengan jalan tasawuf manusia dapat menemukan ketentraman di dalam hidupnya melalui pendekatan kepada Tuhan.


Dalam kehidupan modern yang serba kompleks ini, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi ke hampir seluruh kawasan dunia. Pada saat mana manusia harus berkelit dengan masalah kehidupan yang serba materialistis. Hubungan antara manusia pada zaman modern juga cenderung impersonal, tidak akrab lagi antara satu dengan yang lain. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tempayan. Fenomena ini membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan dan mengendalikan dirinya untuk kemudian tetap tegar dalam kepribadian.


Dalam hidup ini, yang dibutuhkan oleh manusia tidak lain adalah ketenangan, ketentraman jiwa, atau kebahagiaan batin. Dan itu semua tidak banyak bergantung kepada faktor-faktor luar, seperti ekonomi, status sosial, dan seterusnya, melainkan lebih tergantung kepada sikap hidup dan kedekatan kita kepada Allah Swt. Oleh sebab itu, mendekatkan diri dan meminta pertolongan kepada Allah (istianah dan istighatsah), tetap relevan dan satu keharusan agar memperoleh hidup sehat dan layak; jiwa yang seimbang; pribadi yang luhur; dan hati yang tenang. Di sinilah makna sufisme itu; mengedapankan nilai ajaran agama, spiritualitas, dan aspek esoteris yang menjadi benteng kepribadian supaya terhindar dari hiruk pikuk materialisme dan hedonisme, terutama dalam kehidupan global yang penuh tantangan ini.

Komentar